Beranda > buku harian > Teman

Teman

“Ibu gimana temen nay bisa banyak?” Tulis anak saya (Naila) di wall Fecebook (FB) saya beberapa hari lalu. Anak saya ini baru kelas TK-B. Meski tak diijinkan oleh FB karena usianya, dengan “hanya” mengubah tahun lahir,  anak-anak di bawah umurpun akhirnya dapat pula berselancar di dunia FB yang menghebohkan itu.

Sebagai orang tua,  saya tak mampu melarangnya untuk memiliki akun FB, karena saudara sepupunya yang telah ABG,serta beberapa temannya, bercerita selalu “heboh” tentang “teman baru”-nya yang dikenalinya lewat FB. Saya akhirnya  berusaha membatasi kemampuan akses dia ketika main FB.

Khawatir ekses yang kan timbul, bukan pula tak terpikirkan. Tapi, sekali lagi, saya hanya mampu bertahan dan mengarahkan penggunaan produk IT teranyar ini untuk hal-hal yang saya pandang positif. Saat ini dia sedang belajar menulis dan mengenal beberapa vocabulary Bahasa Inggris. Itu satu-satunya alasan mengapa saya akhirnya mengabulkan keinginannya.

***

Setiap hari dia selalu memperlihatkan jumlah temannya yang terus bertambah. Ada kebanggaan luar biasa, meski sebetulnya dia belum paham benar perbandingan jumlah yang dinyatakan dalam angka-angka pada FB. Dia pun sering bertanya, “teman ibu ada berapa? ” Lalu, dengan nada datar dia minta penjelasan seberapa besar angka yang saya sebutkan itu.

Teman bagi anak generasi kini mungkin sudah tak memiliki “kekuatan” seperti yang generasi saya rasakan. Ketika SD, saya memiliki seorang teman yang setiap ba’da Magrib minta diceritakan sebuah dongeng.  Saya senang kala itu, karena saya pulang dengan kebanggaan telah mendongeng di depan bu guru kelas yang nyata-nyata  adalah ibu teman saya itu (kalau dia bukan anak dari guru saya, mana mau saya jauh-jauh datang ke rumahnya untuk sekadar mendongeng).

Saya pun punya teman (lagi-lagi ini anak guru saya), yang ketika berbaris ketika hendak masuk kelas, selalu ingin berdiri paling depan. Ajaibnya, tak seorang pun berani mengusiknya, di saat puluhan orang lainnya berdesakan bahkan sampai berantem ingin berdiri lebih depan dari teman lainnya. Pada teman yang ini, saya benci tapi tanpa daya. Hati saya selalu perih melihat keangkuhannya. Berdiri paling depan dengan aman, tanpa seorang pun berani menggesernya.

Ketika SMP, hubungan dengan teman-teman sekelas bahkan seangkatan terasa lebih berarti.  Seseorang yang termasuk “teman saya” sangat  berbeda perlakuannya dengan yang “bukan teman”  saya.  Saat punya rejeki, sakit, atau apapun, teman selalu hadir merasakan suka duka kehidupan milik saya.

Hal yang paling berkesan kala itu adalah berkat restu ibu saya, teman-teman saya boleh nginep di rumah setiap malam minggu. Apa yang dikerjakan pada malam di saat ABG lain seusianya bermalam mingguan ? Saya dan kawan-kawan sekitar 7-8 orang mengerjakan semua PR untuk minggu depan. Semua beres dalam semalam itu. Dan yang paling mengagumkan, menjelang tengah malam, ketika semua PR telah selesai, makanan hidangan alakadanya, made in ibu saya telah siap untuk disantap. Alhasil, semua teman saya ini berprestasi luar biasa di sekolah.

Ketika SMA, arti teman berbeda pula. Begitupun saat kuliah, atau saat sama-sama terlibat dalam organisasi/perkumpulan. Teman sungguh memiliki tempat dan makna sangat dalam, dan demikian berwujud.

Melihat anak-anak bermain FB, definisi dan makna teman tampak seperti begitu dangkal. Cukup sekadar menambah angka pada tabel friend, atau lebih jauh sekedar menulis di wall tentang hal-hal yang tak begitu urgen, maka itulah teman saya.

Saya kadang khawatir, anak-anak sekarang kehilangan masa dimana dia seharusnya merasakan arti teman yang sesungguhnya.Teman yang mestinya ikut mewarnai kehidupannya, orang-orang yang senantiasa bisa membuatnya “lebih hidup” sebagai manusia.

Mungkin di sinilah tugas lain seorang ibu jaman sekarang. Selain urusan rutin dalam mengurus kepentingannya,  kini badai teknologi mesti juga diwaspadai, karena ada banyak terminologi hidup yang tampaknya akan kehilangan jiwa.

Belum lama saya termangu memikirkan hal ini, tiba-tiba seorang ponakan yang telah abg mengirimkan sebuah link berbunyi : “Hanya dengan sekali klik, dapatkan 1000 teman”. Weleh-weleh…….. ****

Categories: buku harian Tag:, ,
  1. 9 Juni 2010 pada 4:22 am | #1

    subhanallah……….

  2. 9 Juni 2010 pada 2:48 pm | #2

    bertamu… salam kenal balik heheheh :D

  3. 24 Juni 2010 pada 12:50 pm | #3

    sebenarnya teman ibaratnya saudara… tp sekarang itu susah didapat dan rasannya semakin terkikis.. :)

  4. 27 Juni 2010 pada 2:57 am | #4

    salam kenal.wah isi blog nya bagus sekali, ditungguin link balik nya..

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.