Beranda > pustaka > Helen Thomas dan “Mereka Berani Bicara”

Helen Thomas dan “Mereka Berani Bicara”

Kasus Helen Thomas, mengingatkan saya pada buku hasil terjemahan karya Paul Findley (Mizan, 1990) berjudul “Mereka Berani Bicara”.  Buku tersebut mengungkap bagaimana kuatnya cengkraman Zionis dalam memengaruhi pelbagai kebijakan politik Amerika.

Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisan saya pada koran berbahasa Sunda “Galura” yang dimuat pada Agustus 1992 berjudul “Kuku Yahudi di Amerika“.

***

Israel merupakan negara yang disebut-sebut sebagai “boneka Amerika”, belum juga usai jadi bahan perbincangan.  Tapi, apa betul Israel adalah boneka Amerika ?  Atau bahkan sebaliknya ?

Pengaruh Israel sudah sejak lama menyelusup di hampir semua pusat kekuasaan politik Amerika.  Lobi Yahudi yakni American Israel Public Affairs Commite (AIPAC), menggurita di Capitol Hill (DPR-Amerika). Semua anggota kongres sadar, mengkritik kebijakan pemerintah yang bakal merugikan Israel adalah ancaman bagi karir politiknya.

Bukan hanya di kongres dan senat, lobi Yahudi Israel juga masuk ke wilayah Pentagon, departemen luar negeri, dan bahkan di “Ruang Oval” (ruang kerja presiden di Gedung Putih).

Lobi Yahudi menguasai hampir seluruh sektor penting kehidupan, seperti perbankan, hukum, dan jaringan komunikasi. Tidak ada anggota kongres yang berani melawan kebijakan “kaum minoritas” (Zionis Israel di AS)  yang hanya 2% dari seluruh warga AS.

Organisasi Yahudi seperti AIPAC, jumlahnya hampir mencapai 200. Organisasi tersebut hakikatnya adalah “perpanjangan tangan”  pemerintahan Israel di Amerika.  Satu kejadian dapat dijadikan bukti yaitu ketika AIPAC membantu kongres  membuat rancangan pernyataan untuk membela pemboman Israel ke pusat reaktor nuklir Irak tahun 1981. Hasil pembicaraan tersebut persis seperti yang kemudian diterbitkan oleh kedutaan Israel dalam waktu yang hampir sama.

Singkatnya, Amerika benar-benar tunduk pada kemauan AIPAC dan organisasi lobi Yahudi lainnya. Bahkan ada rumor di departemen luar negeri, “Seandainya Perdana Mentri Israel mengumumkan bahwa dunia ini rata, bukan bulat,  maka dalam tempo tidak kurang dari 24 jam , kongres bakal mengeluarkan resolusi yang berisi “ucapan selamat” untuk hal tersebut.

JARINGAN AIPAC

Pengaruh ‘aksi’ lobi bukan hanya pada hal-hal umum, tetapi mempengaruhi juga pemilihan presiden.

Tahun 1983,  George Shultz (menlu AS saat itu), merombak  bantuan LN AS. Pihak yang ditunjuk untuk melaksanakan program tersebut terdiri atas 42 orang, 27 diantaranya anggota kongres, dan yang lainnya kalangan profesional dalam hal rancangan bantuan luar negeri, pada tahun-tahun sebelumnya.

Thomas A, Dine, pelobi full time yang juga direktur AIPAC ditunjuk menjadi anggota panel. Saat itu pelobi diberi kepercayaan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas negara pada bidang-bidang yang cukup strategis.  Saat itu Dine meyakinkan tentang tujuan utama AIPAC, agar bantuan ke Israel terus meningkat.

Tahun 1984, Dine semakin merajalela. Ia datang ke Gedung Putih untuk membicarakan dua hal penting yakni tentang situasi politik luar negeri AS di Timur Tengah yaitu situasi di Libanon serta mengusulkan  rencana bantuan ‘pasukan gerak cepat’ ke Yordania. Majalah ‘Washingtonian’ bahkan mengatakan bahwa Dine adalah orang yang paling berpengaruh di Washington saat itu.

Raja Husen, dari Yordania, tahun 1984 mengecap AIPAC karena menjadi sebab merosotnya pengaruh AS dalam upaya perdamaian di Timur Tengah. Raja juga mengkritik lobi Yahudi yang sudah keterlaluan, mempengaruhi pemilu AS. “Kandidat presiden AS harus meminta restu AIPAC, jika ingin terpilih”, demikian Raja Husen.

Jaringan AIPAC terus melebar, melalui ceramah, lokakarya, dan seminar. Pembicara dalam acara-acara tersebut bukan orang biasa, melainkan sengaja dipilih dari staf pemerintahan dan bahkan sengaja mengundang dari Israel.  Konon, acara-acara seperti itu dalam setahun bisa mencapai 900 kali.  Di Capitol Hill, terus menerus diadakan kegiatan sosial untuk mempengaruhi ribuan pelajar, mahasiswa, karyawan, tokoh-tokoh, bahkan anggota kongres.

Selanjutnya, dibentuk ‘misi pemimpin muda’ yaitu kegiatan berupa wisata ke Israel yang memberangkatkan ribuan Yahudi Amerika. Para wisatawan diberi wawasan  agar dapat merasakan ‘kebesaran’  Israel. Program ini ternyata efektif untuk membangkitkan semangat.

Ternyata piknik model tersebut bukan hanya untuk masyarakat umum, tetapi juga gubernur, unsur pemerintahan, wartwan,  dan tokoh-tokoh masyarakat  lainnya.

Lobi di Kampus

Yahudi juga dominan di kampus-kampus. Bukan hanya memperhatikan masalah akademik yang berhubungan dengan Timur Tengah, tetapi juga mengendalikan koran-koran kampus.

Tahun 1973, AIPAC mengadakan program pengembangan kepemimpinan  politik, untuk melatih aktivis mahasiswa tentang cara2 meningkatkan pengaruh pro Israel di kampus. Dalam 4 tahun berhasil mengumpulkan 5000 mahasiswa di 350 kampus yang tersebar di 50 negara bagian.

Tahun 1983, AIPAC mengedarkan kuisioner untuk mahasiswa dan dosen, yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui ‘situasi politik kampus’. Beberapa pertanyaan yang diajukan memperlihatkan sikap Yahudi yang keterlaluan, yakni upaya meruntuhkan karir politik pihak-pihak yang berani melawan kebijakan pemerintah dalam hal Israel”.

Media kampus mendapat sorotan cukup ketat. Saat Berkeley Graduate (majalah bulanan mahasiswa) memuat beberapa artikel yang mengkritik PM Israel, Menachem Begin beserta kebijakannya, kantor majalah tersebut mendapat telepon gelap berisi ‘caci maki’.

Dewan mahasiswa Yahudi, menyusun petisi yang berisi protes ka Graduate, dan menuduh Graduate sebagai anti-semit.  Seminggu kemudian dewan mengajukan rancangan peraturan ke Majelis Doktoral dan memberitahu sikap mereka agar meralat  isi  Graduate. Selanjutnya, mereka mengancam agar segera dibentuk panitia yang akan menyeleksi berita/artikel untuk tiap edisi Graduate. Jika tidak, maka Graduate akan ditutup.

Setelah agak alot, akhirnya Majelis Doktral memutuskan agar bantuan dana untuk Graduate dipotong hingga mencapai 55%, dan sekaligus merombak sistem akuntansinya agar majalah Graduate tak memungkinkan terbit kembali.

Penutup

Dari sejumlah tekanan-tekanan Lobi Yahudi, yang paling ironis adalah dalam hal ‘kebebasan berbicara’.  Sementara Amerika adalah negara yang kerap mengaku sebagai negara yang sangat menghormati kebebasan berbicara.

Ada banyak warga Amerika yang ketakutan berbicara mengenai hal-hal yang berkaitan tentang konflik yang tidak pernah usai yakni “konflik Arab-Israel”. Siapapun yang mencoba mengkritik kebijakan permerintah dalam hal Israel, sama artinya ‘mencari masalah’. Kongres taat pada semua perintah lobi. Universitas pun tak sanggup menjalankan program akademis yang agak berbeda, dan media-media serta pemimpin militer, tunduk pada tekanan Lobi Yahudi.(Sumber : pengakuan Faul Findley, dalam “Mereka Berani Bicara”)

  1. 20 Oktober 2010 pukul 2:54 pm | #1

    wah kok lama nggak di update Bu :)

    • ani
      25 Oktober 2010 pukul 6:14 am | #2

      hehe… biasa, merasa paling sibuk sedunia…hkkkk…:) Tks

  2. 8 Desember 2010 pukul 12:45 pm | #3

    Asslam w w ,
    Akhirnya saya ketemu juga blognya wali kelas..
    Buuuuu , kalo ada tugas , update d sini aja ya :D :D
    Posting lagi lah Bu.. :(
    materi d kelas kalau bisa, hehe :)

    • ani
      17 Desember 2010 pukul 3:52 pm | #4

      hhhkkkk…. blog sy lama tak tersentuh. Alasan klise.. “kekurangan waktu”. thx atas kunjungannya. Sukses !

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.