Beranda > buku harian > Nasionalisme

Nasionalisme

Partai semifinal antara Timnas Indonesia dengan Filipina pada 16 Desember 2010 lalu, benar-benar membuktikan bahwa sport dapat  menjadi pemersatu dan  pembangkit nasionalisme yang tak terbantahkan. Euforia  penonton di sepanjang pertandingan merupakan bukti bahwa sport juga mampu mendobrak batas-batas yang ada; melupakan sejenak pertikaian ‘politik’ yang sedang berkembang; serta mengingatkan kaum muda akan indahnya kebersamaan.

Lagu “Garuda di Dadaku” dan gelombang merah putih, cukup membuat saya terharu. Luar biasa. ! Dan euforia  itu mencapai klimaksnya ketika sundulan kepala Gonzales berhasil membawa bola merobek pertahanan Filipina.

Goal..!!! Tanpa sadar, saya pun berteriak, tak beda dengan para penggila bola. Padahal saya tak mengerti ‘bola’. Hanya mengerti urusan Goal. Di luar itu, sungguh saya tak  paham. Beberapa event penting perhelatan bola tak cukup kuat menarik minat saya untuk menontonnya; bahkan world cup beberapa bulan lalu pun luput dari minat saya untuk sedikit peduli.

Nasionalisme Kaum Muda

Ferie Budiansyah, seorang technopreuner muda asal Bandung, pada satu hari sebelumnya juga berbicara nasionalisme. Sambil melakukan sharing tentang hal-hal terkait ‘technopreuneur’, diapun sekilas menyajikan film animasi rintisannya “Bandung Lautan Api” yang konon awal 2011 nanti dapat dinikmati di bioskop-bioskop yang ada.

Dia pun punya visi, melalui film animasinya tersebut, semoga tertanam nasionalisme di kalangan anak-anak, dengan mengangkat sejarah peristiwa memilukan di kota Bandung pada tahun 1946 tsb, ke dalam sebuah film animasi. Pasti anak-anak tertarik tuk menontonnya.

Nasionalisme benar-benar kembali menyentuh relung batin anak-anak dan kaum muda. Apapun medianya.

Bukan apa-apa….! Saya termasuk yang sangat khawatir,  kaum muda saat ini terlalu asik dengan handphone, Fb, serta Twitter-nya, sehingga kehilangan waktu untuk sedikit merenung dan memikirkan bahwa “tak ada keberhasilan” yang tak diperjuangkan. Maka, kemenangan Timnas Indonesia atas Filipina, serta keberhasilan seorang Ferie Budiansyah menggarap film animasi bermuatan sejarah,  bukanlah sesuatu yang “gratis” tanpa perjuangan. ***

  1. 18 Desember 2010 pada 11:06 pm | #1

    Saya sependapat bahwa nasionalisme sudah seharusnya diaktualisasikan ke dalam kondisi kekikinian, termasuk dalam dunia persebakbolaan atau di profesi apapun yang tujuannya adalah memberikan karya terbaik bagi bangsa dan negara. Nasionalisme jangan hanya menggelora kita merayakan hari besar nasional semacam Proklamasi 17 Agustus, hari pahlawan 10 November. Sudah saatnya kita kita menjadikan “nasionalisme perang 45″ yang mengantarkan kemerdekaan kita menjadi “nasionalisme pembangunan” yang akan mengantarkan kita menjadi bangsa maju dan sejahtera…

  2. 19 Desember 2010 pada 1:28 am | #2

    Apa kabar bu Dosen :)

    Blognya dah aktif lagi ya?

    • ani
      28 Desember 2010 pada 7:57 am | #3

      hkkkhkkk … :) Mohon doa, smoga bisa konsisten

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.