Obsesi

Sejauh ini saya selalu memaknai kata obsesi secara positif  — sangat positif. Manusia ber-“gerak” karena obsesinya. Orang yang tidak memiliki obsesi, maka ia hanyalah “sebongkah daging”, yang maha fana. Sebatas manusia dalam wujudnya yang nisbi.

Meski demikian, saya masih menyisakan sisi lain terhadap pandangan mengenai makna kata “obsesi”, yakni kenyataan bahwa jika obsesi tidak disikapi dengan wajar, sangat mungkin dapat menyeret seseorang  terjerembab ke arah yang kurang “sehat”, “berlebihan”, atau bahkan jadi korban pihak lain yang memanfaatkan situasi jiwa yang kurang stabil tersebut.

Saat mencoba membuka KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), kaget juga… “obsesi” ternyata  memiliki konotasi “negatif”.

obsesi /ob·se·si/ /obsési/ n Psi gangguan jiwa berupa pikiran yg selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan:  terobsesi /ter·ob·se·si/ v kena obsesi

Tak percaya, khawatir  KBBI keliru, saya pun meluncur ke  http://dictionary.reference.com. Ternyata mirip dengan KBBI. Sekali lagi,  saya merenung cukup lama dan mencoba menerawang, lalu bergumam lagi “Ini saya yang salah, atau KBBI yang salah ?” screenshot dari http://dictionary.reference.com/browse/obsessionMakna obsesi pada KBBI dan pada dictionarry. reference.com hanya melihat dari sudut pandang psikologi, sementara saya memaknai obsesi, dari realitas keseharaian, situasinya juga sangat rileks, simpel, bahwa obsesi itu positif — sangat positif.  Keukeuh !

***

Bukti keyakinan saya tersebut, bukan tanpa alasan. Ada banyak kisah inspiratif yang dimiliki orang-orang penuh obsesi. Tengoklah sejarah Napoleon Bonaparte — kopral kecil yang penuh ambisi :  obsesi.  Setelah ratusan tahun lamanya Perancis dipimpin oleh raja-raja, Napoleon tampil dan merupakan pemimpin Perancis pertama yang bergelar Kaisar (the emperor of French), dan menjadi satu-satunya kaisar Prancis, yang wilayah kekuasaannya pernah hampir menguasai seluruh Eropa bahkan mencakup Asia Barat, termasuk Mesir dan Palestina.

Ada banyak  informasi yang menyoroti napoleon kecil untuk dapat lebih menggambarkan betapa kuat obsesinya, hingga membesarkan namanya saat  dewasa. Karena Napoleon kecil bukanlah sosok yang “wah” dari sisi penampilan. Di sekolah ia sering menjadi olokan teman-temannya karena logat bahasanya yang berbeda dengan kebanyakan teman-temannya. Postur tubuhnya mungil, berasal dari “kampung” dan miskin, senang menyendiri, tetapi di sisi lain  jago matematika dan gemar membaca.

Kisah lain yang lebih dekat,  “Mantan Copet Jadi Pengusaha“, dari sebuah blog. Bagaimana seorang pencopet berjuang meninggalkan gaya hidupnya dan terobesi ingin jadi pengusaha — meraih hidup yang halal, dan terwujud. Itulah Obsesi yang saya pahami.

Satu lagi, ini yang paling menguatkan pendapat saya tentang betapa positif-nya makna kata “obsesi”. Untuk memahami “pemikiran” tentang obsesi ini saya perlu merenung agak dalam, memaknai kata demi kata, bait demi bait.

***

Saat itu, sekitar tahun 1992-an .. saat saya mulai memiliki kemampuan “membeli buku sendiri” (biasanya selalu pinjam, atau baca-baca buku koleksi pribadi ayah .. 🙂 ), saat itulah saya mulai mengenal seorang Budi Darma (maaf, Prof. Budi Darma). Dalam buku kumpulan essei-nya “Harmonium” yang terbit tahun 1995 —  tertuang makna “obsesi” yang demikian agung, luhur, dan cukup mampu memengaruhi “gerak” jiwa saya yang saat itu masih belia… 🙂 .

“Berpikir dan mempertanyakan adalah hakekat obsesi. Begitu seseorang terlibat dalam obsesi, dia akan mengadakan dialog dengan dirinya sendiri. Dengan dialog, dia mencari jawaban. Dialog dengan diri sendiri merupakan proses mengejar cakrawala. Jawaban demi jawaban hanyalah terminal, bukan final. Seperti tengah mengadakan perjalanan jauh dan panjang, kita perlu pemberhentian untuk melepas lelah atau menambah bekal. Pemahaman baru menimbulkan pertanyaan baru. Dan kita kembali harus mencari (jawaban). Mengejar  cakrawala …”.

Indah nian makna obsesi di tangan sastrawan gaek ini. Saya semakin yakin, kata “obsesi” bermakna positif — sangat positif.

***

Dalam sebuah status di Face book suatu hari, saya menulis, “Ingin rasanya memiliki energi tanpa batas. Banyak yang ingin dan harus dikerjakan, selalu tertunda karena alasan kehabisan energi”. Comment-pun berdatangan, yang menegur saya agar berlaku adil terhadap tubuh dan jiwa. Tidak ngoyo, karena istirahat yang baik adalah jalan menuju keseimbangan. Tubuh tidak diporsir, dan jiwapun biarkan bahagia …. Tapi, itulah  obsesi… selalu memberi energi, hingga kadang  jadi lupa diri, meski akhirnya disadari harus pula dibatasi.

Selama  berinteraksi dengan sejumlah orang — tepatnya mahasiswa — saya sering bertemu dengan yang  berkeluh kesah karena tidak memahami “suatu pelajaran” , padahal pelajaran tersebut  ingin sekali dikuasai, karena penting. Pertanyaan pertama saya adalah “berapa waktu yang sudah Anda investasikan untuk berupaya memahaminya ?”. “Apakah Anda bersedia meluangkan waktu setiap hari, untuk memperjuangkan dan mengejar-nya ?” Lebih jauh sayapun sering bertanya, “Sudahkah  keinginan tersebut Anda pikirkan secara mendalam, serius, hingga bejibun  memasuki setiap sel darah, dan memenuhi ruang kepala ?”

Pertanyaan yang terkesan “memojokkan” memang. Tapi, maksud saya adalah hanya ingin memastikan.. apakah “keinginan” tersebut telah demikian kuat, dan serius diperjuangkan ?

Karena obsesi bukanlah “stand up comedy“, untuk refreshing ! Obsesi akan meminta banyak pemikiran, mulai bangun tidur hingga malam-malam — dan mungkin akhirnya memerintahkan sel-sel otak untuk  tidak tidur.. 🙂

Dan, menyikapi mahasiswa-mahasiswa saya yang cerdas, yang kemudian bermasalah dengan studinya karena berbagai sebab, sayapun berpikir lain. Ada rongga di pikirannya yang harus ditata ulang, pelan-pelan diurai, dan digali kembali apa hakikat ”obsesi”-nya. Perlu juga dilihat, gerangan apa yang kini memenuhi jiwa dan keinginannya. Untuk itulah tulisan ini dibuat.

Di ujung kontemplasi saya hari ini, saya pun ingin menyampaikan pertanyaan  untuk mahasiswa saya yang lain… “Apa obsesimu saat ini, kawan?” ***

Iklan
Pos ini dipublikasikan di buku harian, Curhat, kontemplasi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

13 Balasan ke Obsesi

  1. Mahesa mpk berkata:

    obsesi saya berubah rubah dulu dan sekarang , karena menurut saya bu , bahwa pemikiran manusia itu dinamis , seperti apa yang dipikirkan ibu dan kamus (hehe soso an ya bu) bahwa pasti berbeda-beda pemikiran dalam satu makna, sama seperti obsesi saya dulu obsesi saya ingin jadi orang terkenal tapi sekarang obsesi saya intinya harus lebih baik dari yang kemarin. jadi menurut saya itu adalah hal yang tidak bisa di buat satu pemahaman .:D

    CMIIW ( Corect Me If I Wrong)

  2. setuju sama mahesa hhe ..
    kalo obsesi saya sekarang pengen punya perusahaan sendiri bu, seperti “pendahulu-pendahulu” saya, sepertinya ada kenikmatan tersendiri hhe

  3. ositus berkata:

    obsesi saya pengen jadi penyanyi tp suara tidak mendukung

  4. Mita Kania berkata:

    Izin berkomentar bu
    Sebelumnya saya setuju dengan Prof. Budi Darma mengenai obsesi, karena saya juga sering bertanya pada diri sendiri apa obsesi saya, sudah berjalankah, dan banyak lagi, menurut saya obsesi itu juga bersifat relatif, bergantung pada ‘apa obsesinya’.
    Jika ditanya apa obsesi saya, saya punya banyak obsesi dan terus bertambah -maaf bu tidak ingin menyebutkan apa obsesinya hehe-, dan itu yang jadi acuan saya dalam menjalani hidup ini hehehe, namun pada perjalanannya terkadang saya harus menyicipi jalan lain sebelum mencapai jalan yang sesuai. Dan meskipun hidup saya penuh dengan obsesi saya masih bisa bahagia dan menikmatinya, justru karena itu saya begitu hehehe.

  5. Ping balik: “Apa Obsesimu di JTK?” | aliqornanblog

  6. Iseng dilihat: ternyata, belakangan pada KBBI edisi 4 obsesi tidak lagi hanya dimaknai dari sisi psikologi, namun juga menangkap pemaknaan kata tersebut sebagai sesuatu yang “merasuki” pikiran. http://kbbi4.portalbahasa.com/entri/obsesi

  7. Ping balik: “Apa Obsesimu di JTK?” – Muhammad Saiful Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s